Belajar dari Film The Pursuit of Happyness

Home > List Berita & Artikel > Belajar Dari Film The Pursuit Of Happyness

Belajar dari Film The Pursuit of Happyness

Sejak awal tahun 2000-an, terhitung sudah banyak media yang bisa dimanfaatkan sebagai wadah untuk mendapat informasi guna dapat bermanfaat bagi kepentingannya masing-masing. Beberapa media konvensional seperti TV, radio, bahkan koran pun masih tetap menjadi pilihan bagi orang-orang yang haus akan informasi, walaupun dengan kuantitas penggunanya yang cenderung menurun dari waktu ke waktu.

Dalam beberapa waktu kebelakang pula, media digital hadir dengan segudang kelebihan yang tidak dimiliki oleh beberapa media konvensional. TV digital, Podcast, Electronic News seakan menjadi batu hambatan bagi media konvensional untuk bisa berkembang dan tetap bertengger diposisi paling atas diantara banyak media-media yang berkembang pada saat ini.

Dari perkembangan tersebut kita bisa belajar, bahwa segala teknologi yang telah ada, akan senantiasi berubah seiring dengan bergesernya minat para penggunanya. Seperti halnya film The Pursuit of Happyness, yang menyampaikann pesan bahwa perubahan merupakan satu hal yang sangat mendasar untuk mencapai sebuah kemajuan.

Sedikit mengenai film tersebut,

Film berjudul The Pursuit of Happyness ini bercerita tentang seorang Salesman bernama Chris Gardner yang menghabiskan seluruh tabungannya untuk berinvestasi terhadap sebuah franchise scanner tulang portable yang diyakini memiliki daya jual yang lebih tinggi diantara produk lain yang sejenis.

Naasnya, apa yang dia harapkan, tidak berbanding lurus dengan hasil yang dia dapatkan saat itu. Investasi tersebut gagal, sehingga menjadikan dirinya terjerembab dalam lubang kemiskinan. Tapi berkat kegigihannya, Chris Gardner dapat memutar balikan keadaan dengan segala macam rintangan yang telah dia lewati, sampai pada akhir cerita dia berhasil menjadi seorang pialang saham yang sukses dan kembali bernilai dimata para penikmatnya.

Melalui sebuah webinar berjudul Bedah Film : ‘From the Bottom to the top of Business Man’ ini, Pengurus Himasi STIE EKUITAS mencoba untuk membedah segala hal yang dapat dijadikan pelajaran untuk tidak melakukan kesalahan serupa seperti apa yang telah dilakukan oleh Chris Gardner ketika memutuskan untuk berinvestasi.

Sadar tidak sadar, sejak awal pandemi Covid-19 kegiatan investasi menjadi hal yang cukup menggiurkan bagi kalangan anak muda di Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa, kegiatan investasi seperti menjadi sebuah keharusan dikalangan anak muda yang membuat sebagian dari mereka berbondong-bondong untuk melakukannya tanpa menguasai ilmu dasar atas sebuah instrumen investasi. Padahal risiko yang tersedia sangatlah besar dan cukup membahayakan, apalagi jika kegiatan tersebut dilakukan dalam volume yang relatif besar.

Dalam webinar yang diselenggarakan pada tanggal 18 April 2021 ini, panitia penyelenggara telah menghadirkan seorang narasumber bernama Panji Damar Pradana yang merupakan salah satu Mahasiwa di Fakultas Budaya dan Media Institut Seni Budaya Indonesia Bandung guna bisa sama-sama berdiskusi mengenai apa saja yang seharusnya dilakukan jika berbicara sebuah hikmah yang relevan dari film tersebut.

Panji mengatakan “apa yang dilakukan oleh Chris Gardner dalam film tersebut sangat mencerminkan bagaimana tamaknya sifat seorang manusia dalam mengambil keputusan. Sehingga, apa yang dilakukan olehnya seperti menjadi sebuah boomerang yang berujung dalam keadaan yang merepotkan. Untuk itu, kita harus cermat dalam mempertimbangkan suatu resiko. Jangan sampai, pengambilan keputusan malah menjadi mala petaka untuk kehidupan dimasa mendatang.”

Tampak beberapa partisipan yang menganggukan kepala seakan menjadi tanda setuju atas apa yang dikatakan oleh Panji tadi. Juga, para partisipan dalam webinar tersebut tidak hanya disuguhkan untuk mendengar penilaian dari narasumber, melainkan dapat juga untuk berkomentar mengenai film tersebut bahwasannya banyak opini yang bisa keluar agar bisa dijadikan satu renungan ketika dimasa mendatang, bisa jadi kita akan menjumpai hal yang serupa seperti apa yang dijumpai oleh Crish Gardner dalam film tersebut.

Dengan diadakannya webinar tersebut, kami harap dapat menjadi sebuah wadah untuk berdiskusi antara partisipan dengan beberapa pihak yang terlibat, sehingga dapat menghasilkan satu kesimpulan yang bisa disepakati bersama baik oleh kedua belah pihak tersebut.

 

Penulis Artikel : Eri Budiman

Redaktur : HUMAS STIE EKUITAS