Kerja, Engga Harus Melulu Jadi Karyawan

Home > List Berita & Artikel > Kerja, Engga Harus Melulu Jadi Karyawan

Mahasiswa Zaman Sekarang, Engga Harus Melulu Jadi Karyawan

Rabu, 31 Maret 2021

“Ada baiknya seorang mahasiswa, hanya fokus bekerja setelah resmi menyandang gelar sarjana agar hasil yang dikeluarkan bisa lebih maksimal”. Sepertinya pernyataan tadi, tidak lagi terasa relevan sejak hari ini.

Kok gitu ? Tenang,  semua jawaban terkait hal tersebut, sudah dijawab secara lengkap pada satu sesi Webinar berjudul KULIAH SAMBIL BISNIS, KENAPA ENGGA ? yang dihelat pada Rabu, 31 Maret 2021 yang lalu.

Berikut merupakan ulasan singkat mengenai webinar tersebut

Dihadiri oleh 4 orang narasumber yang memiliki pengalaman tersendiri atas bisnisnya masing-masing, semakin menambah keseruan acara tersebut, yang sekaligus dapat menambah wawasan bagi siapapun yang hadir sebagai partisipan.

Heddy Hendryan | Komisaris PT Bisnis Cukur Nusantara

Diurutan pertama, ada Heddy Hendryan yang saat ini menjabat sebagai Komisaris di PT Bisnis Cukur Nusantara. PT Bisnis Cukur Utama  yang saat ini dikelola oleh beliau sudah memiliki dua sub unit usaha yaitu Bisnis Barbershop dan Sekolah Cukur, dirasa sudah cukup berhasil untuk mengubah satu konsep konvensional dari industri potong rambut, menjadi satu konsep yang bisa dibilang sangat dekat bagi banyak kalangan anak muda.

Saat ditanya mengenai alasan dibuatnya PT Bisnis Cukur Nusantara ini, beliau menjawab “dengan didirikan nya sekolah cukur ini yaitu menciptakan lapangan kerja pastinya untuk karyawan di sekolah cukur dan juga menciptakan wirausahawan atau mengurangi angka pengangguran. Karena ketika lulus,si alumni ini ada 2 pilihan antara kerja di barber orang lain atau buka barber sendiri, terlebih kita sudah bekerja sama dengan Dinas Ketenagakerjaan Jawa Barat perihal sertifikasi yang akan didapat oleh para alumni Sekolah Cukur ” jawabnya secara singkat

Renaldi Isyraq L | Owner Fever Dust

Narasumber yang menempati gilaran selanjutnya adalah Renaldi Isyraq. Beliau merupakan seorang mahasiswa  aktif di STIE EKUITAS, yang sekaligus merupakan pemilik toko reparasi sepatu bernama Fever Dust .

Dalam proses membangun bisnisnya sendiri, Reynaldi mengungkapkan “saya mah dulu jualan dari SD.. salah satunya saya jualin sepatu futsal, terus pernah waktu SD juga dibeliin Playstation, tapi malah saya rentalin . Sampe akhirnya pas SMA juga saya mulai ngulik buat benerin sepatu punya temen. bahkan waktu itu, saya termasuk murid yang paling telat diantara yang paling telat . Karena harus beresin sepatu sampe malam . Bahkan seringnya sih sampe subuh”.

Ketika banyak orang yang melihat bahwa bisnis adalah sesuatu yang selalu menyenangkan, sepertinya itu tidak sepenuhnya benar bagi beliau. Sebab, Reynaldi selaku owner dari Fever Dust pernah merasakan hal yang tidak mengenakan saat berbisnis di beberapa waktu kebelakang.

“saat itu saya belum bisa buat ngelakuin pencatatan yang baik, jadi alhasil uang dibawa kabur karyawan” katanya. Ditambah belum lama ini, sejak pandemi datang menuju Indonesia, pendapatannya kian hari kian menurun. Yang secara tidak langsung, mengharuskan mereka untuk gulung tikar dalam waktu yang belum bisa ditentukan.

Begitulah sedikit pengalaman yang bisa dibagikan oleh Reynaldi Irsyaq selaku pemilik dari Fever Dust.

Anisa Agnesiana | Owner Kongkowrongok & Nyonyomilk

Lika-liku atas sebuah proses merupakan hal yang telah dan akan selalu ditempuh oleh sosok wanita hebat yang satu ini. Anisa Agnesia merupakan seorang entrepreneur yang sedang menjalankan bisnis di bidang Food & Beverage. Kongkowrongok dan Nyonyomilk merupakan dua buah karya hebat dari seorang Anisa Agnesia.

Dalam proses pembentukan bisnis Nyonyo Milk ini, beliau bercerita “ dulu nyonyo milk itu awalnya dari depan rumah.. produk yang dijual itu susu murni asli.. tapi  pas mulai jualan, aku juga sempet ga diizinkan waktu itu sama orang tua, karena emang harusnya setelah lulus kuliah, aku kerja diperusahaan gede gitu , kurang lebih gitu si pemikiran orang tua saya waktu itu..” sambil tertawa ringan.

Dari banyak pengalaman beliau coba bagikan disini, beliau menyampaikan bahwa seorang entrepreneur dituntut untuk selalu sigap dalam memecahkan masalah yang datang silih berganti. Semua hal yang pada awalnya merupakan hal yang biasa, bisa berubah dalam waktu yang singkat menjadi hal yang sangat berpacu dengan segala tekanan. Baik itu tekanan untuk mendapat hasil akhir maupun tekanan ditengah proses perjuangan.

Arief Susanto | Founder & CEO DUS DUK DUK

Sebuah kebanggan bagi kami, STIE EKUITAS untuk dapat menghadirkan seorang narasumber berprestasi yang telah mendapatkan banyak penghargaan baik itu skala nasional, maupun internasional seperti Arief Susanto.  Beliau adalah seorang lulusan ITS, sekaligus founder Dari DUS DUK DUK yang saat ini memiliki peran penting terhadap industri pemanfaatan barang bekas yang ada di Indonesia.

DUS DUK DUK ini  dibentuk oleh beliau semasa kuliah saat mengikuti pameran yang diselenggarakan oleh para mahasiswa ITS. Berawal dari latar belakang pendidikan sebagai seorang mahasiswa design, Arief Susanto dapat secara efektif mengaplikasikan segala ilmu yang didapat saat kuliah, sehingga menjadikannya seperti sekarang ini.

“apasih kunci sukses yang selama ini dusdukduk pegang mas ?” kata Gina selaku moderator saat web binar itu berlangsung. “Kuncinya ada pada ketekunan, hingga mempelajari segala teknis yang akan dipakai nantinya saat bisnis sudah berlangsung.. teknis-teknis seperti copywriting, branding, dan segala macam jenis visual yang nantinya akan digunakan sebagai media informasi atas proses penjualan suatu brand, dalam kasus ini khususnya dusdukduk...” Jawabnya dengan ramah.

 

Penulis Artikel : Eri Budiman

Redaktur : HUMAS STIE EKUITAS