Dampak Pandemi COVID 19 Terhadap Rating Efek & Korporasi di Indonesia

Home > List Berita & Artikel > Dampak Pandemi COVID 19 Terhadap Rating Efek & Korporasi Di Indonesia

Dalam rangka mengawali sekaligus menyambut mahasiswa/i baru Program Studi Magister Manajemen, STIE EKUITAS hadir melalui sebuah agenda permulaan berjudulkan Kuliah Umum : Dampak Pandemi COVID 19 Terhadap Rating Efek & Korporasi di Indonesia.

Dokumentasi Agenda : Ketua STIE EKUITAS membuka agenda tersebut

Dokumentasi Agenda : Ketua STIE EKUITAS membuka agenda tersebut

Pada kesempatan tersebut, telah hadir salah seorang Pembicara sekaligus Direktur Utama dari PT Pefindo (Pemeringkat Efek Indonesia) yakni Salyadi Saputra.

Setelah dibuka oleh Ketua STIE Ekuitas Prof. Dr.rer.nat. M. Fani Cahyandito, SE, MSc , agenda tersebut dilanjutkan kepada sesi utama yakni pemaparan materi utama yang dipandu oleh Dr. Acu Kusnandar, S.E., M.M. selaku moderator dan juga Dosen Magister Manajemen pada periode berjalan. 

Selain dihadiri oleh pembicara, moderator, dan juga mahasiswa/i baru prodi Magister Manajemen, dalam agenda tersebut telah hadir pula beberapa Civitas Akademik yang  turut serta untuk menjadi partisipan yang juga terlibat dalam agenda tersebut.

Pada pemeparan materinya Salyadi Saputra mengatakan, bahwa saat ini seluruh sektor korporasi sedang menerima dampak dari pandemi covid yang terus menerus berkelanjutan.

Bahkan menurut riset yang dilakukan oleh PT Pefindo, terdapat lima kriteria yang menjadi penerima dampak atas keberlangsungan pandemi Covid-19 di Indonesia. Kelima kriteria yang dimaksud yakni, Very High, High, Moderate, Low, dan juga Neutral.

Menurut materi yang disampaikan, industri – industri seperti halnya Airport, Restaurant, Hotel, Tourism, dan juga Transportasi merupakan beberapa industri yang paling terkena (Very High) imbas dari berlangsungnya pandemi Covid-19 ini.

Hal tersebut terjadi sebab menurunnya daya beli masyarakat, yang sekaligus membuat perusahaan-perusahaan yang tergolong kedalam industri tersebut, cukup kesulitan dalam menjual produk atau jasa utama yang pada lazimnya menjadi penopang atas masing-masing operasional perusahaan.

Maka dari itu, tidak heran jika pada tahun 2021 beberapa perusahaan yang tergolong kepada industri tersebut berpotensi untuk tidak dapat manahan resiko gagal bayar,terhadap beberapa variabel yang menjadi penentu atas keberlangsungan sebuah organisasi (organization sustainability).

Beberapa penelusuran atas sejumlah variabel yang teridentifikasi, terhitung sejak Kuartal pertama tahun 2021 sampai dengan bulan Juli lalu, menyebutkan bahwa masih terdapat sejumlah output yang buruk dan keluar sebagai akibat dari diberlakukannya kembali PPKM level 3 & 4 di Indonesia. Beberapa output yang dimaksud diantaranya :

  • Perusahaan yang prospek kegiatan usahanya terdampak pandemi masih berpotensi mengalami tekanan terhadap peringkatnya.
  • Refinancing risk masih menghantui perusahaan yang memiliki kewajiban keuangan yang jatuh tempo tapi menghadapi tantangan dalam akses pendanaan.
  • Beberapa perusahaan penerbit surat utang khususnya BUMN sudah/sedang menyiapkan aksi korporasi untuk mengatasi isu pendanaan dan memperbaiki profil liabilitasnya.
  • Potensi kenaikan peringkat cenderung terbatas terhadap sektor-sektor usaha yang terbukti memiliki ketahanan terhadap krisis pandemi Covid-19, atau perbaikan profil kredit yang bersifat non-organik. Dampak kenaikan harga komoditas terhadap peringkat cenderung terbatas, karena umumnya hanya bersifat sementara

Dengan kata lain, penetrasi seluruh perusahaan yang terkena imbas daripada Covid-19 tersebut masih tergolong rancu atau cenderung tidak bisa dengan jelas diprediksi kapan dan bagaimana sebetulnya perusahaan-perusahaan tersebut terlepas dari jeratan hutang baik jangka pendek maupun jangka panjang yang saat ini masih menjadi penopang keberlangsungan sebuah organisasi.

Seperti halnya kasus yang dialami oleh kebanyakan peruhaan konstruksi. Arus kas yang cenderung bergerak lambat akibat pembatasan sosial yang menyebabkan terganggunya kendala administrasi. Hal tersebut membuat penetrasi dalam menghasilkan profit menjadi terganggu.

Akibatnya, Financial leverage meningkat dengan turunnya profitabilitas, sedangkan utang masih tinggi dengan meningkatnya kebutuhan pendanaan di tengah keterbatasan neraca akibat mismatch arus kas dan proses divestasi yang lebih lambat dengan adanya pandemi.

 

Penulis Artikel : Eri Budiman

Redaktur : HUMAS STIE EKUITAS